Batubara

Cegah Longsor dan Banjir, ISNU Batu Bara Tanam Mahoni di Bantaran Sungai Desa Titi Merah

post-img
Foto : Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Batu Bara melakukan menanam pohon mahoni di sepanjang pinggiran sungai Desa Titi Merah, Sabtu (9/5/2026)

LDberita.id - Batubara, Kerusakan aliran sungai di Desa Titi Merah, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Kabupaten Batu Bara, kian memprihatinkan. Ancaman longsor di bantaran sungai, pendangkalan aliran air, hingga potensi banjir yang sewaktu-waktu dapat mengancam permukiman warga menjadi persoalan nyata yang tak bisa lagi dianggap sepele.

Melihat kondisi tersebut, Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Batu Bara melakukan menanam pohon mahoni di sepanjang pinggiran sungai Desa Titi Merah, Sabtu (9/5/2026),

Kegiatan ini bukan sekadar seremoni penghijauan, melainkan bentuk peringatan keras kepada semua pihak, khususnya perusahaan perkebunan yang selama ini bersentuhan langsung dengan aliran sungai namun dinilai masih minim kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Penghijauan tersebut melibatkan para santri Pondok Pesantren Al-Itqon Batu Bara sebagai bagian dari edukasi lingkungan sejak dini. Para santri diajak memahami bahwa menjaga alam bukan hanya tugas pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab bersama demi masa depan yang lebih aman.

Ketua PC ISNU Kabupaten Batu Bara, Jasmi Assyuti, menegaskan bahwa kondisi sungai di Desa Titi Merah saat ini membutuhkan perhatian serius. Jika terus dibiarkan tanpa tindakan nyata, maka masyarakatlah yang akan menjadi korban pertama ketika bencana datang.

“Jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton saat alam rusak, lalu menjadi korban saat banjir datang. Sungai ini harus dijaga bersama. Penanaman pohon ini harus dimulai dari sekarang, bukan setelah bencana terjadi,” tegas Jasmi.

Ia juga menyoroti masih adanya kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan ke aliran sungai, serta kurangnya perhatian dari sejumlah perusahaan dan perkebunan yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut.

Menurutnya, perusahaan tidak boleh hanya mengambil keuntungan dari alam sekitar tanpa memiliki tanggung jawab sosial terhadap keselamatan masyarakat dan keberlangsungan lingkungan.

“Perusahaan perkebunan yang berada di sekitar aliran sungai ini jangan hanya menikmati hasil usaha, tetapi tutup mata terhadap kondisi sungai yang semakin rusak. Jika sungai meluap dan banjir datang, masyarakat kecil yang akan paling menderita. Ini harus menjadi perhatian serius,” ujarnya

Jasmi juga mendesak agar pihak perusahaan dan perkebunan segera mengambil langkah konkret seperti normalisasi sungai, penanaman pohon penahan longsor, serta program tanggung jawab sosial lingkungan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“CSR jangan hanya sebatas papan nama dan laporan administrasi, harus ada bukti nyata di lapangan. Sungai yang rusak ini perlu tindakan, bukan sekadar janji,” tambahnya.

Di sisi lain, Jasmi mengapresiasi atas dukungan PT Inalum Paritohan, Samosir, yang telah memberikan bantuan bibit pohon mahoni untuk mendukung program penghijauan tersebut.

Menurutnya, langkah PT Inalum menjadi contoh bahwa perusahaan dapat hadir memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan.

“Kami berterima kasih kepada Inalum yang telah membantu bibit pohon untuk penghijauan ini. Ini bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa diwujudkan melalui tindakan nyata,” katanya. (End)

Berita Terkait