Batubara

Sumpah Baru, Masalah Lama, Apa yang Akan Dilakukan DPRD Batu Bara?

post-img
Foto : Kondisi jalan tani di Desa Titi Merah, kecamatan lima Puluh Pesisir, yang rusak parah tanpa perhatian dari pimpinan DPRD Batu Bara

LDberita.id - Batubara, Rapat Paripurna Peresmian dan Pengangkatan Pimpinan DPRD Kabupaten Batu Bara masa jabatan 2024-2029 telah selesai digelar. Dengan khidmat, Safii, SH, dari PDI Perjuangan resmi menjadi Ketua DPRD, didampingi Rodial dari PKS sebagai Wakil Ketua, di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Batu Bara, Selasa (14/01/2025).

Namun di balik tepuk tangan dan seremoni megah itu, rakyat Batu Bara masih terjebak dalam kenyataan pahit janji-janji manis yang bertahun-tahun tidak kunjung terealisasi.

Di tengah gegap gempita pelantikan, suara rintihan petani dan nelayan Batu Bara terus terabaikan. Sawah-sawah yang dahulu subur kini terbengkalai karena irigasi yang rusak dan tak terawat.

Air yang menjadi urat nadi kehidupan pertanian mengering, sementara janji pemerintah tentang perbaikan hanya sekadar angin lalu.

"Setiap kali musim tanam tiba, kami tidak tahu harus berharap pada siapa. Irigasi rusak, pupuk langka, hasil panen dihargai murah, tetapi pejabat terus bercerita tentang keberpihakan pada petani.

Di mana keberpihakan itu," Kami hanya melihat mereka sibuk memotong pita dan berfoto," ujar Sarifuddin, seorang petani dari Kecamatan Lima Puluh Pesisir.

Nasib nelayan tak jauh berbeda. Kapal kecil yang sudah lapuk tetap dipaksa melaut dengan hasil tangkapan yang tak seberapa.

Harga ikan dipermainkan tengkulak, sementara dukungan pemerintah untuk peralatan atau subsidi bahan bakar hanya sebatas cerita dari baliho kampanye.

Jalan-jalan di desa yang menjadi urat nadi perekonomian masyarakat semakin parah. Lubang-lubang menganga bak jebakan maut, menghambat akses petani membawa hasil panen ke pasar dan anak-anak desa menuju sekolah.

Di sisi lain, pejabat daerah asyik berkendara dengan mobil dinas mewah melintasi jalan aspal mulus yang hanya ada di sekitar kantor pemerintahan.

"Apakah jalan berlubang hanya diperbaiki kalau ada kunjungan pejabat," Setelah itu dibiarkan rusak lagi kami lelah dengan sandiwara seperti ini," kata Sarifuddin.

Di sektor pendidikan, Batu Bara tetap menjadi cerminan ketimpangan yang menyakitkan. Sekolah-sekolah di desa masih kekurangan fasilitas dasar.

Guru honorer dibayar rendah, sementara kebijakan pendidikan terasa lebih fokus Bimtek dan pada laporan administratif ketimbang kualitas pengajaran.

"Banyak anak-anak kami yang putus sekolah karena jalan rusak dan biaya pendidikan yang mahal apa DPRD akan terus diam saja" tanya Rohani, seorang ibu rumah tangga

Namun rakyat Batu Bara tidak lagi mudah percaya. Mereka telah kenyang dengan janji politisi yang selalu berakhir pada kepentingan kelompok tertentu.

"Jangan sampai sumpah kalian hari ini menjadi dosa yang kalian tanggung selamanya. Ingat, rakyat Batu Bara bukan boneka yang bisa terus dipermainkan. Kami akan menagih setiap janji yang diucapkan di atas podium itu!" tegas Rohani,  seorang ibu rumah tangga

Rakyat Batu Bara menantang pimpinan DPRD yang baru untuk benar-benar bekerja. Jalan rusak, irigasi petani, kesejahteraan nelayan, dan pendidikan bukan lagi masalah yang bisa ditunda.

Jika para wakil rakyat hanya sibuk mengurus kepentingan pribadi, maka rakyat tak akan segan untuk bergerak dan melawan.

"Jangan sampai rakyat yang sudah diam karena lelah, akhirnya bangkit dan menuntut. Karena ketika itu terjadi, tidak ada lagi ruang untuk basa-basi, ujarnya. (Boy)

Berita Terkait